Narsisme Genetik
dorongan bawah sadar mencari pasangan yang mirip diri sendiri
Pernahkah kita sedang duduk santai di kedai kopi, lalu melihat sepasang kekasih lewat, dan batin kita otomatis berbisik, "Mereka ini pacaran atau kakak adik, ya?"
Wajah mereka punya struktur tulang pipi yang serupa. Bentuk senyumnya sama. Bahkan, cara mereka mengerutkan dahi saat menatap menu pun persis. Di budaya kita, ada sebuah mitos manis yang sering diucapkan orang tua: kalau wajahnya mirip, berarti jodoh.
Itu penjelasan romantisnya. Namun, sains ternyata punya sudut pandang yang sedikit lebih egois, namun jauh lebih menarik. Apa yang kita sebut sebagai "jodoh" dari kacamata romansa, secara diam-diam dipandang oleh biologi evolusioner sebagai sebuah misi kelangsungan hidup. Mari kita kesampingkan sejenak puisi cinta, karena ada konspirasi kuno yang sedang terjadi di dalam DNA kita setiap kali kita jatuh cinta.
Kita sering dicekoki pepatah opposites attract atau kutub yang berlawanan akan saling tarik-menarik. Di film-film Hollywood, si anak nakal sering kali berakhir dengan si murid teladan. Sangat dramatis.
Namun, di dunia nyata, psikologi dan sosiologi menunjukkan pola yang sama sekali berbeda. Kita rupanya cenderung ditarik oleh apa yang familier. Fenomena ini dikenal dengan istilah assortative mating. Kita secara sadar mencari pasangan yang punya latar belakang pendidikan setara, selera humor yang nyambung, hingga preferensi agama dan gaya hidup yang sama. Sejarah manusia juga dipenuhi pola ini, di mana kelas sosial cenderung mencari pasangannya sendiri untuk menjaga garis keturunan dan harta, meski kadang berujung pada perjodohan ekstrem ala bangsawan Eropa masa lampau.
Tapi, mari kita bawa ini selangkah lebih jauh. Bagaimana jika pencarian kesamaan ini tidak berhenti pada sekadar hobi minum kopi atau selera musik? Bagaimana jika tanpa kita sadari, saat kita sedang scrolling aplikasi kencan, otak reptil kita sedang melakukan pemindaian wajah untuk mencari refleksi dari wajah kita sendiri?
Secara psikologis, ini masuk akal. Ada sebuah prinsip bernama mere-exposure effect. Intinya, kita cenderung menyukai hal-hal yang sering kita lihat. Dan wajah siapa yang paling sering kita lihat sepanjang hidup kita sejak kecil? Tentu saja wajah kita sendiri di cermin. Otak kita mengasosiasikan fitur wajah tersebut dengan rasa aman dan nyaman.
Tapi di sinilah misterinya mulai terasa ganjil. Kalau kita mencari seseorang yang genetiknya terlalu mirip dengan kita, bukankah itu melanggar aturan dasar biologi? Teman-teman pasti tahu, reproduksi dengan kerabat dekat atau inbreeding adalah ide yang sangat buruk secara medis. Ia bisa memunculkan penyakit genetik yang resesif dan melemahkan keturunan.
Lalu, mengapa dorongan bawah sadar kita malah menyuruh kita mencari pasangan yang mirip? Jika alam semesta dan evolusi selalu mendambakan keragaman untuk bertahan dari penyakit, apa agenda rahasia yang sebenarnya sedang dimainkan oleh tubuh kita?
Jawaban dari teka-teki ini adalah sebuah konsep yang oleh para ahli biologi evolusioner sering disebut sebagai narsisme genetik.
Teman-teman, gen kita sebenarnya sangat pragmatis. Richard Dawkins pernah menulis tentang the selfish gene atau gen yang egois. Gen di dalam tubuh kita punya satu tujuan utama: memperbanyak diri mereka ke generasi berikutnya. Cara paling efisien untuk memastikan sifat-sifat unggul kita diwariskan adalah dengan mencari "rekan kerja" yang punya kode genetik serupa. Oleh karena itu, kita merasa sangat tertarik pada orang yang fitur fisiknya mirip dengan kita, karena itu adalah tanda bahwa ia membawa sekelompok gen yang sama.
Tapi evolusi itu tidak bodoh. Untuk mencegah bahaya genetik akibat kawin sedarah, tubuh kita menggunakan strategi brilian yang disebut optimal outbreeding.
Kita didorong untuk mencari pasangan yang secara umum cukup mirip dengan kita—seperti warna mata, tinggi badan, atau struktur wajah. Namun, pada level sistem imun, tubuh kita menuntut perbedaan mutlak. Di dalam DNA kita ada kelompok gen bernama MHC (Major Histocompatibility Complex) yang mengatur kekebalan tubuh. Lewat aroma tubuh dan ciuman, kita sebenarnya sedang "mengendus" gen MHC pasangan kita.
Jika sistem imunnya terlalu mirip dengan kita, aroma tubuhnya akan terasa membosankan atau bahkan mengganggu. Tapi jika sistem imunnya berbeda, aromanya akan terasa memabukkan. Jadi, alam memberi kita jalan tengah yang jenius: pilihlah yang wajahnya mirip agar gen spesifikmu bertahan, tapi pastikan aroma tubuh (sistem imunnya) berbeda agar anakmu nanti kebal dari berbagai penyakit.
Mungkin terdengar sedikit aneh saat menyadari bahwa romansa yang kita agungkan ternyata disetir oleh narsisme mikroskopis di dalam sel kita sendiri. Kita jatuh cinta pada versi lain dari diri kita, hanya saja dengan sistem imun yang berbeda.
Namun, mengetahui fakta ini rasanya tidak mengurangi keindahan cinta itu sendiri, bukan? Justru, ada sesuatu yang sangat menenangkan di baliknya. Menyadari bahwa ketertarikan kita pada seseorang bukanlah hal yang sepenuhnya acak. Ada ribuan tahun kebijaksanaan evolusi, kelangsungan hidup, dan perhitungan genetis rumit yang berpadu hanya agar kita merasa nyaman saat menggenggam tangan orang yang tepat.
Jadi, besok-besok jika ada teman yang berkomentar, "Eh, kalian berdua kok lama-lama wajahnya mirip banget, ya?" teman-teman bisa tersenyum simpul. Tidak perlu menjelaskan tentang MHC atau narsisme genetik jika itu merusak suasana. Cukup aminkan saja, karena biologi dan semesta—lewat cara mereka yang unik—telah mengonfirmasi bahwa kita memang sedang merawat kelangsungan hidup bersama "jodoh" kita.